Renungan Di Kala Malam Hari



Di sudut ruang penuh dengan kesunyian

tertunduk penuh kepiluan.

Derai air mata tak terasa membasahi pipi

dengan hati yang penuh kehampaan. 


Sudah kulakukan untuk membuatnya ramai,

tapi lagi, dan lagi ditinggalkan.

Sudah kulakukan untuk menemukan kebahagiaan,

tapi lagi, dan lagi yang kutemukan hanya kepiluan.

Sudah kucoba untuk menghapus air mata ini,

tapi lagi, dan lagi hanya derai air mata yang dihasilkan.

Sudah kucari seseorang untuk mengisi kehampaan,

tapi lagi, dan lagi hanya kehampaan yang semakin kudapatkan. 


Dan akhirnya kucoba untuk keluar,

Pergi dari rasa sakit ini,

Meski pada akhirnya, kemanapun aku pergi,

Aku selalu kembali pada titik ini,

Titik dimana semua di mulai,

Namun, sulit untuk kuakhiri, 


Hidup memang seperti roda yang berputar,

Kadang di atas,

Kadang di bawah,

Namun sepertinya, roda milikku tengah berhenti di titik terendah,

Karena sekarang rasanya hidupku begitu kosong dan tak bermakna, 


Katanya, hidup harus memiliki tujuan,

Lantas, bagaimana dengan aku yang perlahan kehilangan tujuannya?

Duka, luka dan air mata, sudah menjadi bagian dari keseharianku,

Senyum, tawa dan bahagia itu, entah sejak kapan perlahan hilang, 


Semua tampak sama sekarang,

Kegiatanku tak ada bedanya dengan jarum jam yang berdetak konstan,

Monoton dan mungkin membosankan, 


Mungkin aku kurang bersyukur,

Mungkin juga aku sudah terlalu hancur, 


Pada akhirnya, aku memilih tak peduli,

Hanya menjalani hidup dengan caraku sendiri,

Hingga Tuhan membawaku kembali,

Pada kehidupan abadi.

إرسال تعليق

أحدث أقدم